WELCOME

WELCOME

Wednesday, March 5, 2014

TEMPAT TEMPAT SEJARAH

Tempat  Sejarah  Jogjakarta
      Kedudukan Jogjakarta    yang  dianggap
penting oleh pemerintah Belanda      unutuk dimusnakan ternyata tidak berhasil,       dan penyerangan ini justru menghadirkan tempat tempat   sejarah  dalam  catatan  perjuangan bangsa di Jogja.
        Diantara  beberapa  tempat  sejarah yang juga menyertai jalannya perjuangan antara lain :



 


A.GEDUNG AGUNG

Gedung  Agung, atau dulu disebut Gedung Tyokan Kantai, degan pernya taan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Pakualam     VIII pada tanggal 5 September 1945, menunjukkan makin kuatnya rasa persa tuan dan kesatuan nasinonal. Perasaan cinta bangsa dan tanah   air  Repu
blik Indonesia makin menyala.
       Semangat yang menyala tersalur dengan adanya sikap rela berkorban untuk mengibarkan Sang Merah Putih mengatikan Hinomaru  yang sudah dianggap tidak tepat lagi berkibar ditanah RI. Gedung Cokan Kantai atau yang kini menjadi Gedung Agung Jogja.   Tekad bulat parpemuda yang dilandasi semangat patriotik pada tanggal 21 September 1945, pertama kali mengibarkan bendera        Merah Putih di Gedung Balai Mataram, atau gedung Senisono dahulu dan pada pukul 12.00 hari itu juga pemuda dan rakyat menunjukan semangat bersatu dengan hanya bersenjetakan tradisional menerjang barisan tentara Jepang yang menjaga Gedung Agung tujuan utamanya menurunkan Hinomaru dan  mengatikandengan Sang Merah Putih. Diantara beberapa pemuda itu dapat kita catat seperti Kapten Slamet C, Siti Aisyah, Sultan Ilyas,Supardi serta Rusli dengan tidak memperdulikan bahaya maut di ujung senjata Jepang berhasil mengibarkan    bendera Sang Saka Merah Putih di Atap Gedung Cokan Kantai atau Gedung Agung.


B.BENTENG VREDEBURG
                                            
  Sejak berkibarnya Sang Saka Merah Putih diGedung Cokan Kantai atau Gedung Agung merupakan awal mula tersisihnya kekuasaan Jepang
diJogjakarta. Dengan berakhirnya kekuasaan Jepang di Jogjakarta maka bangunnan bangunan yang dulu dikuasai Jepang kemudian diserahkan kepadaBadan Keamanan Rakyat atau BKR dan Laskar Rakyat.
       Selanjutnya pengelolaan bekas Benteng Vredeburg diserahkan kepada pihak Militer dala hal ini BKR yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat TKR yang akhirnya menjadi TNI sekarang ini Setelah penyerahan Benteng Vredeburg saat itu, benteng ini juga pernah dijadikan sebagai :


1. Kantor TKR dengan stafnya.
2. Staf "Q" dan asrama pasukannya
3. Rumah sakit Tentara dan Asrama Prajurit Kesehatan
4. Tempat Gudang Senjata dan
5.Tahanan Politik.                                                                                                                              

Saturday, March 1, 2014

PROFIL PRAJURIT KRATON NGAYOGYAKARTA

       Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibentuk pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I sekitar abad 17. Tepatnya pada tahun 1755 Masehi. Selama kurang lebih setengah abad pasukan Ngayogyakarta terkenal cukup kuat, pada masa Pemerintahan Hamengkubuwono II mengadakan perlawanan bersenjata menghadapi serbuan dari pasukan Inggris dibawah pimpinan Jenderal Gillespie pada bulan Juni 1812. Namun semenjak masa Pemerintahan Hamengkubuwono III kompeni Inggris membubarkan angkatan perang Kasultanan Yogykarta. Dalam perjanjian 2 Oktober 1813 yang ditandatangani oleh Sultan Hamengkubuwono III dan Raffles, dituliskan bahwa Kesultanan Yogyakarta tidak dibenarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat.

      Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit yang disebut bregada. Saat ini terdapat 10 bregada prajurit, yaitu : Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaheng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Mantrijero, Prajurit Nyutro, Prajurit Bugis dan Prajurit Surokarso. Setiap bregada dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Kapten, didampingi oleh seorang perwira berpangkat Panji, yang bertugas untuk mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi oleh seorang Wakil Panji. Sementara regu-regu dalam setiap bregada dipimpin oleh seorang bintara berpangkat Sersan. Keseluruhan perwira dalam semua bregada dipimpin oleh seorang Pandega. Pucuk pimpinan tertinggi keseluruhan bregada prajurit Keraton adalah seorang Manggalayudha. Adapun profil masing-masing prajurit ini adalah :








      Keberadaan Bregada-bregada prajurit Keraton saat ini berada dibawah Pengageng Tepas Kaprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hanya saja  Bregada-bregada prajurit Keraton ini hanya tampil dalam acara tertentu, dengan urutan dan formasi tertentu sesuai peran dan fungsi masing-masing, sebagaimana yang ditampilkan dalam setiap defile pada upacara Garebeg setiap tahunnya.